Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Rasa Cinta Merigankan Beban Pekerjaan

Kejadian 29 : 1 – 30

Kutipan ayat – ayat Alkitab ini menggambarkan sebagian kejadian dalam kehidupan Yakub, Yakni kehidupan saat mudanya.   Ada satu ayat yang cukup menarik bagi saya, yaitu pada ayat yang keduapuluh.


“Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.”

Bekerja menggembalakan ternak bukanlah pekerjaan yang ringan.  Selain harus mengerti tentang ternak, pekerjaan ini juga memerlukan ketahanan fisik yang prima.  Bisa dibayangkan bahwa pekerjaan ini pasti sangat menguras segala daya yang dimiliki oleh Yakub.  Rasa bosan juga akan begitu mudah menghampiri diri seorang penggembala ternak, karena setiap hari bergumul dengan hal – hal yang nyaris sama, belum lagi resiko saat melindungi kawanan ternak dari ancaman hewan buas.  Namun dalam cerita tersebut digambarkan bahwa Yakub menganggapnya seperti beberapa hari saja untuk pekerjaan yang dilakukan selama tujuh tahun. Yupss, semua itu terjadi karena ada motivasi dibalik ketangguhan Yakub dalam bekerja.  Motivasi itu adalah rasa cinta yang besar terhadap Rahel.

BERPIKIR POSITIF



Tetangga Jonny memiliki pohon kelengkeng yang sangat besar dan rimbun daunnya. Beberapa cabang dari pohon itu masuk menyeberang ke halaman rumah Jonny. Setiap hari Jonny menyapu daun-daun kering dari pohon itu yang bertebaran dihalaman rumahnya.

     Suatu ketika Andi, sahabatnya, datang saat Ia sedang menyapu daun-daun kering itu. Lalu Andi bertanya, "Jonny, pohon kelengkeng itu berbuah tidak?"
"Ya..pasti bebuah pada musimnya.."
"Apa buahnya manis dan dagingnya tebal ?"
"Wah...kalau itu aku nggak tahu,aku nggak pernah makan buah kelengkeng itu..."
"Hah?!! masakan pemilik pohon itu tidak pernah memberi kamu buahnya?"
"Tidak pernah...buahnya kan dijual dan aku tidak pernah membelinya..."
"Wah, pemilik pohon itu pelit juga ya...kamu komplain aja ke pemiliknya,cabang pohon yang mengarah ke halamanmu ditebang aja, jadi kamu tiap hari tidak susah payah menyapu daunnya yang bertebaran di halaman rumahmu,Toh kamu tidak pernah merasakan buahnya"
"Tidak apa-apa kok, Aku senang tiap hari bisa membersihkannya. Pohon itu tetap ada manfaatnya, halamanku jadi rindang dan segar karena keberadaan cabang pohon itu"
"Wah kamu pengertian dan bijaksana sekali ya.."
"Ah biasa saja"

Srumbung Gunung, 4/1/2013
Iwan Firman Widiyanto


“AKU AKAN MENDENGARMU SAYANG ?”



Hai saudara-saudara yang kukasihi,
 ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar,
 tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.
Yakobus1:19


Judulnya sangat romantis, Jika diungkapkan dengan pasangan maka dampaknya akan dahsyat ”menentramkan....”.  Karena pada dasarnya setiap orang mempunyai kebutuhan untuk didengarkan dalam arti dipahami seutuhnya.  Namun anehnya banyak orang tidak suka mendengar bahkan tidak mempunyai kemampuan untuk mendengarkan dengan baik.  
Bagaimana bisa seseorang tidak mempunyai kemampuan mendengar, padahal masing-masing mempunyai telinga.  Karena mendengar tidak hanya mendengarkan suara melalui telinga, namun mendengar dengan pikiran dan hati.  Ini berarti dapat memahami kehendak dan maksud serta merasakan apa yang diungkapkan orang lain. Beberapa sikap yang diperlukan untuk mendengar dengan baik adalah; kesabaran untuk tidak terburu-buru menanggapi atau menilai sebelum mengerti benar persoalan; ketenangan untuk mencari hikmat guna memahami masalah dan mencari akar persoalan; kerendahan hati untuk ditegur dan dikoreksi, dan kelembutan untuk bertindak dengan kasih.
Lawan dari kehendak untuk mendengar adalah keangkuhan diri, egois alias menang sendiri dan merasa benar sendiri.   Biasanya orang yang seperti ini senantiasa terburu-buru untuk menilai sebelum mengetahui secara benar persoalan.  Kalau salah dia akan berkelit, mencari pembenaran sendiri.  Maka yang terlontar dari mulutnya adalah kemarahan yang penuh penghakiman (Yak.1:19).  Pada kesempatan awal tahun 2013 ini marilah kita jadikan momentum yang baik untuk belajar lebih banyak mendengar pasangan atau sesama kita daripada banyak berkomentar apalagi yang tidak membangun bahkan menyakitkan hati.
Oleh : Iwan Firman Widiyanto