Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

HIDUP DI HADAPAN ALLAH YANG TEGAS DAN MENCINTA


Mikha 7: 14-20

Hak dan kewajiban haruslah seimbang. Ketika menjalankan kewajiban maka akan memperoleh hak. Hal ini bukan hanya seimbang tetapi juga adil. Ketika kewajiban tidak dilaksanakan maka tidak akan mendapatkan hak. Salah satu contoh yang ada di dalam kehidupan sehari-hari adalah sekolah. 
Tegas dan mencinta
Siswa punya kewajiban mengikuti semua peraturan yang berlaku di sekolah. Hak yang diterima oleh setiap siswa adalah menerima pelajaran dari guru.

Mendukung Negara Untuk Maju



(Roma 13:1-7)


Pada saat-saat ini kita bisa merasakan banyak perubahan yang lebih baik berkaitan dengan pelayanan yang di berikan pemerintah kepada warga negaranya.   Di bidang administrasi kependudukan seperti pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Akta Kelahiran dll dapat di kerjakan dalam waktu yang lebih singkat, murah bahkan gratis. 

Memberi Sebagai Disiplin Rohani



(2 Korintus 8:1-15)

      Apa itu Disiplin Rohani ? Merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan secara rutin dan konsisten untuk menyatakan komitmen Cinta, kepercayaan dan ketertundukan kepada Allah. Disiplin rohani ada bermacam-macam misalnya, doa, puasa, ibadah bersama-sama, membaca Firman Tuhan, dan bersikap atau bertindak sesuai dengan Firman Tuhan. 


 Dalam disiplin rohani apabila kita tidak melakukannya kita disebut sebagai orang yang tidak disiplin.  Bila di dunia militer tentara yang melanggar disiplin akan kena sangsi atau hukuman. 

Tambahkan Cinta Setiap Hari



(Efesus 4:31-32)

Judul di atas perlu menjadi doa yang senantiasa dipanjatkan oleh setiap keluarga.  Memohon supaya Tuhan menganugrahkan cinta kasih yang semakin erat dalam kehidupan berkeluarga.  Karena cinta kasih dalam keluarga apabila tidak dirawat dengan baik maka akan terasa hambar, kering dan akhirnya lenyap.   Hal demikian bisa terjadi karena  ada persoalan-persoalan yang tidak terselesaikan.  Ada kepahitan, kegeraman, kemarahan, perikaian dan bahkan fitnah yang semakin lama semakin membesar.  Apabila tidak diselesaikan maka akan menghancurkan keluarga. 

Rasul Paulus mengajar

Mencari DAHULU Kerajaan ALLAH



Matius 6 : 33
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan Kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”



Seringkali ayat ini digunakan dalam khotbah – khotbah yang kita dengar.  Dan seringkali pula kita hanya mengingat ayatnya, tetapi melupakan untuk melakukannya secara benar.  Mungkin kita bisa mengingat seorang anak kecil yang baru bisa bicara satu atau dua suku kata saja.  Anak tersebut biasanya berusaha mengulang apa yang dikatakan orang lain, namun bukan perulangan yang sebenarnya yang dia katakan, melainkan hanya suku kata yang bagian belakang.  Seberapapun banyaknya kata yang diajarkan kepada anak tersebut, ya tetap saja yang diulang atau diucapkan nyaris sama hanya bagian belakang (itupun kalau yang diucapkan adalah suku kata paling belakang yang benar karena terkadang, anak tersebut melafalkan suku kata paling belakang dengan asal atau malahan sama sekali keliru).

Apa yang ditakutkan bisa menjadi Kenyataan



Ayub 3 : 25
“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku”



“yachhh, inilah hidup.”   Demikian guman seorang teman yang sangat kecewa ketika mendapati apa yang ia takutkan terjadi.  Karena usianya yang beberapa tahun lagi kepala empat dan ternyata ia belum mendapatkan pendamping hidup, beberapa teman yang lain sering meledek dia, atau sekedar bertanya, “Kapan kawinnya?”  Kapan Undangannya?”  “Kapan bawa gandengan ?” (Kayag truk aja Guyss).  Maka hal yang demikian itu justru membuat dia semakin larut dalam suasana takut untuk mencari pasangan hidup.  Dan yang terakhir terjadi dia justru tidak jadi menikah, padahal semua persiapan sudah dilakukan. 

KERENDAHAN HATI PASUKAN ELIT DAUD



Nats Bacaan : 1 Tawarikh 12:1-22
Setelah Saul mati banyak orang-orang yang datang ke Ziklag untuk bergabung dengan Daud. Orang-orang tersebut mempunyai keahlian khusus dalam berperang. Ada yang sanggup melontar panah atau batu dengan busur dengan tangan kanan atau kiri. Ada yang pandai menggunakan tombak dan mampu berlari dengan kecepatan yang luar biasa. 


Di Persimpangan Jalan (Keluaran 1:8, 2:10)



Di dalam dunia ada dua jalan
Lebar dan sempit, mana kau pilih
Yang lebar api, jiwamu mati
Tapi yang sempit, hidup berglori

            Pujian lama tersebut menggambarkan jalan hidup manusia di dunia ini penuh dengan pilihan. Di sana sudah dijelaskan keuntungan dan kerugian masing-masing. Jadi terserah mau pilih yang mana? Memilih hidup abadi atau memilih kematian abadi? Tentu saja memilih hidup abadi. Meskipun sudah memilih hidup abadi tidak sekonyong-konyong membuat kita hidup abadi. Untuk memperolehnya diperlukan adanya proses yang harus dilalui oleh manusia. Dalam melakukan proses tersebut butuh keyakinan yang kuat, perjuangan, ketekunan dan kesabaran. Ketika kita bisa melewatinya maka kita akan memperoleh hidup abadi.
            Tidak sedikit orang gagal atau berhenti di tengah proses yang dilalui tersebut. Apa yang menyebabkan gagal? Salah satunya karena menghadapi pilihan-pilihan yang lain ketika melalui proses hidup. Ada tawaran lain yang menggiurkan menyebabkan hati goyah dan tergoda untuk mencobanya. Lalu bagaimana kita bisa ajeg dengan pilihan kita? Caranya adalah menyerahkan sepenuhnya hidup kita kepada Tuhan. Apapun yang terjadi harus terus berjuang dengan segenap kemampuan.
            Dalam kehidupan manusia selalu diperhadapkan dengan pilihan-pilihan yang harus diambil. Cara mengambil keputusan tersebut tidaklah mudah, ada konsekuensi yang mengikuti atas pilihan tersebut. Di samping harus menghadapi konsekuensi juga harus dapat mempertanggung-jawabkan pilihan yang diambil. Dalam mengambil keputusan diperlukan dasar-dasar yang kuat dan tujuan yang jelas. Dasar-dasar tersebut adalah dasar Etika, sosial, budaya dan agama. Tentu saja pengambilan keputusan berdasarkan Firman Tuhan. Setiap pilihan pasti mengandung konsekuensi. Oleh karena itu perlu bijak dalam mengambil keputusan. Setiap pilihan memiliki hasil masing-masing. Seperti dalam firman Tuhan hari ini, yang dicontohkan oleh para bidan yang memilih untuk takut akan Tuhan. Akhirnya Tuhan memberkati hidup mereka. Contoh lain adalah putri Firaun, memilih untuk mengambil Musa menjadi anaknya karena rasa kasihan dan Simpati.
            Saat ini kita sudah memilih untuk percaya kepada Yesus Kristus, maka sudah sepenuhnya kita berserah penuh kepada Tuhan. Mengasihi yang lain dengan tulus. Cintailah orang lain, maka kita akan dicintai orang lain juga. (TEN recover By H2)

Kasih dan Kebenaran: Setali Tiga Uang



Kisah Para Rasul 4: 32 – 5: 11
            Dalam kisah firman Tuhan hari ini ada dua kisah yang berlawanan. Yusuf yang disebut Barnabas menyerahkan semua hasil penjual tanahnya kepada para rasul supaya semua itu diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dia memberikan dengan tulus dan tidak ada maksud apapun dibalik pemberian itu. Kisah berikutnya yaitu dari Ananias-Safira. Mereka adalah suami istri yang telah bersepakat berbohong. Mereka menjual tanah milik dan memberikan kepada para rasul sebagian uang hasil penjualan. Yang salah disini adalah bukan memberi, tetapi kebohongan yang dibuat oleh Ananias-Safira. Mereka mengaku memberikan semua uangnya ternyata sebenarnya hanya memberikan sebagian saja.


Keluarga Yang Melayani TUHAN


Ini merupakan catatan yang tersirat dari retreat keluarga GKMI Semarang Cabang Srumbung Gunung, yang dilaksanakan di MTC Salatiga pada tanggal 15 - 16 Mei 2015.  Sebuah peristiwa manis yang setelahnya masih terasa manis.


Berangkat dari definisi keluarga. Menurut KBBI ada setidaknya dua definisi tentang Keluarga:

Pertama :Ibu bapak dengan anak-anaknya; seisi rumah; anak bini; Kedua : (kaum -- ) sanak saudara; kaum kerabat.Tujuan dari keluarga adalah menghadirkan Kerajaan Sorga (Matius 6:10, “datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga”).

Alkitab berbicara mengenai keluarga adalah sebagai berikut:

MENAKAR KESETIAAN KEPADA TUHAN

Daniel 1:1-21



Pada waktu  pemilihan Presiden RI 2014 yang lalu suasana politik menjadi panas.  Ada istilah  dalam politik yang di kenal dengan “Tiada kawan ataupun lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan abadi”.   Itu berarti, hari ini berangkulan dan besok bisa jadi saling mencaci.  Atau sebaliknya, Hari ini saling mencaci besok bisa berpelukan lagi.   Itulah bahasa politik dunia, Tidak ada kesetiaaan abadi.
Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah empat orang pemuda Yehuda/Israel yang dipilih Raja Babel untuk dipekerjakan di Istana.  Pada waktu itu Yehuda dikuasai oleh RaJa Babel Nebukadnesar.  Raja menghendaki para pemuda pilihan itu diberikan makanan dan Anggur yang sama dari santapan raja (ay.5).  Dan mereka juga akan dididik selama 3 tahun setelah itu harus bekerja kepada raja. Hal yang menarik adalah keempat pemuda tersebut dengan halus menolak prioritas-prioritas dan kesempatan kehidupan yang sangat nyaman itu.  Mereka berketetapan untuk “Tidak  menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja;  Dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu,supaya ia tidak usah menajiskan dirinya (ay.8).
Berbeda dengan semboyan politik dunia ini yang tidak setia, keempat pemuda menunjukkan teadan kesetiaan kepada Tuhan yang sejati.  Padahal biasanya kalangan muda itu orientasinya masih lekat dengan yang namanya “kesenangan dan kenyamanan”.  Soal prinsip hidup mungkin bisa menjadi nomor sekian setelah prinsip bersenang-senang menikmati hidup.  Daniel,Sadrakh, Mesakh dan Abednego membuktikan bahwa hidup yang mengutamakan kesetiaan pada Tuhan tidaklah sia-sia.    Ia dengan tegas menolak segala bentuk kenajisan hidup.  Meskipun yang najis itu kelihatannya nikmat dan menguntungkan, namun Dia tetap memilih untuk hidup suci di hadapan Tuhan. Selanjutnya Tuhanpun menunjukkan penyertaan dan kasih setiaNya yang nyata. Mereka tidak kekurangan apapun, bahkan diberkati luar biasa.  Kualitas fisik dan intelektualnya dikaruniai Tuhan yang terbaik.  Perawakannya dikatakan lebih baik, lebih gemuk dan kecerdasan intelektualnya dikatakan sepuluh kali lebih pandai dari semua orang pandai di negeri itu.  Luarbiasa !

Oleh Pdm.Iwan Firman Widiyanto, M.Th.


PENDIDIKAN MEMUTUS RANTAI KEMISKINAN




“Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan...”
(Amsal 13:18)

Judul sebuah berita onIine sangat menarik, “Iwan Setyawan Anak Sopir Angkot Penakluk New York”.  Menceritakan seorang yang bernama Iwan Setyawan yang berasal dari keluarga miskin.  Ayahnya bekerja sebagai sopir angkot dan ibunya sebagai ibu rumah tangga.   Meskipun dari keluarga miskin namun orangtua Iwan termasuk orangtua yang maju dalam pemikiran.  Mereka mengutamakan pendidikan untuk anak-anaknya.  Orang tuanya mendukung pendidikan Iwan hingga perguruan tinggi.  Meski perjalanan untuk menyelesaikan pendidikan tinggi tersebut penuh dengan pengorbanan.  Ibunya sering menggadaikan barang-barangnya agar Iwan bisa tetap sekolah.  Bahkan ayahnya menjual angkot satu-satunya mesin penghasil uang untuk keluarga demi mendukung pendidikan tinggi anaknya itu.  Akhirnya pengorbanan kedua orangtuanya tidak sia-sia.  Setelah lulus dari IPB Iwan setiawan di terima di Nielsen Research Company.  Selanjutnya karena ketekunannya Ia di pindah di New York, Amerika.  Disana Iwan bekerja lebih keras dari yang lainnya.  Akhirnya Ia mendapat posisi yang cukup tinggi di Nielsen Research Amerika.  Dari Amerika Ia mendukung keuangan keluarganya di Indonesia.
Kisah tersebut memperlihatkan pentingnya pendidikan untuk memutus rantai kemiskinan.  Amsal Salomo juga menyatakan pendapat yang sama.  Orang yang mengabaikan didikan atau pendidikan akan ditimpa kemiskinan dan cemooh.  Oleh karena itu perlu meneladani sikap orang tua Iwan Setyawan, meskipun mereka berpendidikan rendah dan hidup dalam keterbatasan ekonomi namun pemikirannya sudah sangat maju.  Mereka sadar bahwa cara utama memutuskan kemiskinan dalam keluarganya adalah dengan memberikan dukungan sepenuhnya kepada anaknya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya.  Meskipun dengan demikian akan banyak pengorbanan,  namun selanjutnya pengorbanan tersebut akan menghasilkan sesuatu masa depan keluarga yang lebih baik.   Seperti juga kata Amsal, “Dengarlah nasehat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan”.  Itu berarti dengan mengutamakan pendidikan maka masa depan dapat kita rancang dengan bijaksana menuju masa depan yang gilang gemilang.
Satu karakter yang membuat Iwan sukses adalah karakter bekerja dengan tekun dan memberi yang terbaik.  Ia menyaksikan bahwa dirinya bekerja dalam waktu yang lebih lama dari yang lainnya.  Ia mengerjakan pekerjaan tidak hanya dengan hasil standart saja namun dengan hasil yang terbaik,melebihi standar pada umumnya.  Dengan karakternya itu Iwan membuktikan bahwa anak kampung Batu Malang dapat bersaing di dunia Internasional dan menjadi berhasil.

Oleh Pdm.Iwan Firman Widiyanto, M.Th.


"KEJATUHAN DI MASA KEJAYAAN"



Nats Alkitab : 2 Samuel 11:1-27


    Daud mulai hidup nyaman dan mapan. Ia menikmati masa kejayaannya. Ia tidak perlu lagi terjun langsung dalam peperangan untuk memperluas kekuasaannya. Cukup perintah saja maka para anak buahnya yang setia yang akan langsung bertindak.  Oleh karena itu Ia mempunyai banyak waktu untuk menikmati hidup.  Tidur siang, bangun sore hari, petang jalan-jalan cuci mata.  Meskipun di tempat yang lain para anak buahnya berjuang mempertaruhkan nyawa bagi kekuasaannya.

    Justru disinilah awal kejatuhan Daud.  Ia tidak jatuh saat Ia masih lemah, saat harus berhadapan dengan tentara elit gagah perkasa yaitu Goliat. Namun Ia jatuh justru saat telah menjadi kuat.  Ia jatuh saat telah menjadi raja yang penuh dengan kuasa. Ia jatuh saat apa saja yang diinginkannya pasti dapat terlaksana. Ia jatuh saat menginginkan Betsyeba Istri Uria.
  
  Kita harus menyadari bahwa situasi kejayaan dan kenyamanan dapat menjatuhkan seseorang. Maka harus semakin berhati-hati manakala kita di ijinkan Tuhan berdiri pada posisi atau situasi bahwa "Semua yang kita inginkan pasti dapat terlaksana".  Jangan- jangan itu adalah awal dari kejatuhan kita.Oleh karena itu tetaplah takut akan Tuhan dalam segala keadaan.  Roh Kudus akan menolong kita  mengendalikan keinginan- keiginan yang bisa membawa pada kejatuhan.

Oleh Pdm.Iwan Firman Widiyanto, M.Th.

"KEBENARAN SANG KRISTUS, KARYA PELAWATAN ALLAH"

(Yoh.1:10-14)




        Kebenaran yang ironis telah diungkapkan oleh Yohanes.  Ditulis bahwa " Ia telah ada dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalnya (ay.10). Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaannya itu tidak menerimaNya(ay.11)". Ia yang dimaksud disini ialah Firman Allah yang telah menjadi manusia di dalam Yesus Kristus(ay.14). Firman itu menjadi manusia, diperanakkan bukan karena keinginan laki-laki namun karena kehendak Allah.

          Namun dinyatakan setiap orang yang mau menerima Yesus, sebagai perwujudan Firman yang telah menjadi manusia akan di beri kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Suatu gambaran posisi atau keadaan yang luar biasa.  Bisa diartikan Allah memberikan posisi yang istimewa bagi orang yang mau menerima Sang Firman yang telah menjelma menjadi manusia. Posisi yang sangat dekat dengan Allah.  Mampu mendengar kehendaknya secara langsung, masuk dalam lingkaran pertama perlindungan dan fasilitas berkat Allah, serta mewarisi janji keselamatan secara penuh dalam Kerajaan Allah.

            Lalu bagaimana menerima Sang Firman itu ? Menerima Sang Firman berarti mempersilahkan Sang Firmam, Yesus Kristus, untuk menjadi raja dalam kehidupan kita.  Selanjutnya kita tunduk dan taat melakukan pemerintahannya.  Biarkan Sang Firman membangun Kerajaan Allah di dalam kehidupan kita.  Bukankah dia itu Raja Damai? maka kedamaian yang bernilai kekal akan menyelimuti pemerintahan Sang Firman dalam kehidupan kita.

Oleh Pdm.Iwan Firman Widiyanto, M.Th.

          

"LAHIR BARU"

(Yoh.3:1-21)


        Yesus bersabda, "Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, Ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah"(ay.3). Lalu Dia memberikan penjelasan lebih,"Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, Ia tidak dapat masuk kedalam Kerajaan Allah"(ay.5).  Memang pengajaran Tuhan Yesus ini merupakan pokok- pokok pengajaran yang sulit untuk dipahami.   Sehingga orang sekaliber Nikodemus, Seorang pemimpin agama Yahudi, seorang pengajar Israel, kesulitan untuk memahami pengajaran tersebut.  Pada kesempatan itu Tuhan Yesus juga meminta Nikodemus untuk dilahirkan kembali (ay.6).

         Dilahirkan kembali adalah prasyarat utama untuk melihat dan masuk dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah sendiri merupakan sebuah situasi dimana Allah hadir dan memerintah sebagai Raja.  Dalam situasi tersebut ada kebenaran, kasih, keadilan dan damai sejahtera.  Barangsiapa menginginkan kehidupan semacam itu harus lahir kembali.

        Lahir kembali dapat diartikan sebagai sebuah hidup baru yang penuh dengan pertobatan.  Disebut lahir dari air mengacu kepada sebuah penyucian atas segala perbuatan dosa diwaktu yang lalu. Air sebagai lambang Roh Kudus yang membersihkan dan menyegarkan.  Sedangkan dilahirkan dari Roh mengacu pada komitmen hidup baru.  Kesediaan hidup dipimpin oleh Roh Kudus.  Hanya melalui pertobatan dan hidup baru melalui Roh Kudus inilah seseorang dapat mendapatkan jalan untuk mengalami Kehidupan dalam kerajaan Allah pada saat ini juga.

Oleh Pdm Iwan Firman Widiyanto, M.Th.

"Yusuf : Memberi Sepenuh Hati"

(Matius 1:18-24)




        Dalam kisah Natal seringkali hanya orang Majuslah yang diasosiasikan dengan pemberian kepada Tuhan Yesus.  Namun sebenarnya orangtua Yesus khususnya Yusuf merupakan salah satu orang yang juga memberi diri kepada Tuhan dengan sepenuh hati.  Sehingga melaluinya rencana keselamatan Allah kepada manusia melalui Tuhan Yesus dapat di wujudkan.
      
        Yusuf bersedia memberi dirinya untuk menjadi bagian dalam rencana agung Tuhan.  Ia bersedia menikahi Maria meskipun sudah dalam keadaan hamil.  Sebagai manusia biasa tindakan itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk diputuskan.  Namun pada akhirnya Ia rela melakukannya sebagai langkah ketaatan kepada kehendak Tuhan.

        Apakah Saudara rela dipakai untuk menjadi bagian dari rencana Agung Tuhan.  Jikalau bersedia jadilah seperti Yusuf memberi diri sepenuh hati kepada Tuhan.  Sikap-sikap yang diperlukan untuk itu adalah ketulusan, kerendahan hati dan ketaatan. Selamat Memberi diri pada Sang Juruselamat.Amen.

Oleh Pdm.Iwan Firman Widiyanto, M.Th.

"Kabar Baik Bagi Semua Orang"

(Lukas 1:26-38)




        Malaikat Gabriel datang menemui Maria.  Ia membawa kabar baik kepadanya bahwa Maria akan mengandung dari Roh Kudus dan selanjutnya melahirkan seorang bayi laki-laki.  Gabriel menyatakan bahwa anak tersebut akan disebut anak Allah yang maha tinggi.  Dan Tuhan akan mengaruniakan kepadaNya tahta Daud bapa leluhurnya, dan kelak akan menjadi Raja dan kerajaanNya tidak berkesudahan.

        Kabar tersebut tentu sangat mengejutkan sekaligus  juga menggembirakan bagi Maria.  Sehingga Ia merespon positif perkataan Tuhan melalui malaikat tersebut dengan berkata, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan: Jadilah padaku menurut perkataanmu itu".  Kabar tersebut seharusnya menggembirakan tidak hanya bagi Maria tetapi juga bagi seluruh Israel.  Masalahnya pada saat itu Israel sudah lama tidak memiliki raja dan negaranya di jajah oleh pemerintahan Romawi.  
Kitab Lukas ini ditulis setelah tahun 70 Masehi setelah Yerusalem dan Bait Suci dihancurkan. Nampaknya hendak memberikan penghiburan dan pengharapan kepada bangsa Israel.  Menjanjikan Raja yang akan mengatur dan memulihkan keadaan bangsa Israel dan membawa pada puncak kejayaan.

        Janji dan pengharapan itu layak didapatkan juga oleh kita semua.  Karena Yesus bukan saja raja biasa melainkan Anak Allah yang maha tinggi. Ia adalah Allah sendiri.  Yang kerajaannya tidak dibatasi oleh Israel saja namun seluruh isi dunia ini.  Dan yang pemerintahannya berlangsung selama-lamanya.  Maka terimalah Yesus menjadi Rajamu.  Dan Ia akan mengatur dan memulihkan serta membawa hidupmu yang tertawan dan terpenjara oleh keinginan dunia ini beralih pada kejayaan surgawi.Amen.


Oleh

Pdm.Iwan Firman Widiyanto, M.Th.

“INJIL YANG MENYELAMATKAN”

(Roma 1:16-17)



Korea selatan adalah negara yang luar biasa.  Secara  rohani perkembangan kekristenannya sangat pesat.  Terdapat banyak mega church  disana.  Myung Sung Presbyterian Church merupakan salah satunya. Jemaatnya hingga seratus ribu jiwa.  Mereka banyak mengirim misionaris ke seluruh dunia.  Di Indonesia saja kurang lebih ada 700 orang Korea Selatan yang melakukan misi penginjilan.  Meskipun di Korea sendiri kekristenan baru 18,3 persen dari populasi yang ada.  Empat puluh enam persen populasi terbesar merupakan orang Atheisme.  Tidak mengherankan, dengan keadaan tersebut terjadi sebuah Ironi permasalahan yang besar di tengah kemajuan bangsa Korea yang diramalkan akan menjadi negara terkaya nomer 2 di dunia karena pertumbuhan ekonominya yang sangat cepat. Negara ini mempunyai permasalahan tingkat bunuh diri yang terbesar di seluruh dunia. Penelitian tahun 2011 memperlihatkan bahwa 28,4 dari seratus ribu orang Korea Selatan melakukan bunuh diri.  Penyebabnya karena tekanan hidup yang berat dengan tuntutan yang tinggi dalam segala hal demi percepatan ekonomi.  Tentu saja mereka yang atheis cenderung mengalami gangguan depresi yang parah karena tidak  mempunyai pengharapan.


Hidup dengan Injil mampu menyelamatkan dan memberikan kekuatan.  Kalau tidak demikian Paulus  tidak akan memegang dengan kokoh keyakinan akan Injil itu (ay.16).  Keyakinannya yang kokoh itu bahkan sudah dibuktikan dalam pengalaman hidupnya yang penuh dengan tantangan dan ancaman (2 Kor.11:23-28).  Hidup dengan Injil adalah hidup dalam pertobatan dan pengampunan dosa (Lukas 24:47).  Bisa dikatakan sebagai hidup yang benar-benar hidup karena didalamnya ada damai sejahtera, sukacita dan kebahagiaan.  Sebaliknya  hidup tanpa Injil merupkan hidup yang sebenarnya binasa karena hidup  dengan absennya ketenangan, damai sejahtera dan sukacita.  Hidup penuh amarah , dendam , kebencian, ketakutan, kekawatiran dan tak berpengharapan.  Hidup semacam itu oleh karena masih menuruti keinginan daging (Gal.5:19-21).  Hidup tanpa adanya pertobatan dan pengampunan dosa.
Tentu kita akan memilih Hidup Dengan Injil yang menjanjikan keselamatan.  Baik keselamatan di dunia saat ini juga maupun keselamatan kekal secara sempurna di dalam kerajaan Sorga.  Mari hidup dengan Injil yang menyelamatkan.  Selanjutnya juga melakukan misi Tuhan dalam mengabarkan Injil Yang Menyelamatkan tersebut dalam kehidupan di dunia ini.

Oleh
Pdm.Iwan Firman Widiyanto, M.Th.


“MERETAS BATAS-BATAS PELAYANAN”

(Lukas 19:1-10)



Pada saat ini santer pemberitaan mengenai para menteri kabinet kerja yang blusukan secara total.  Mereka semua nampaknya mengikuti gaya presiden Jokowi yang mengedepankan strategi blusukan untuk mengetahui kondisi real masyarakat. Ada menteri yang bahkan naek pagar karena tidak dibukakan pintu waktu melakukan sidak di sebuah agen penampungan tenaga kerja.  Aksi mereka ini bisa di bilang meretas batas-batas pelayanan.    Sudah tidak ada lagi perasaan-perasaan gengsi, enggan, sungkan yang dapat membatasi pelayanan kepada sesama.
Tuhan Yesus sudah memberikan teladan untuk melayani siapapun tanpa melihat status sosial ataupun pandangan masyarakat.  Ia berkenan menumpang di rumah Zakheus Sang Pemungut Cukai (ay.5).  Padahal status sebagai pemungut cukai merupakan status yang di benci oleh masyarakat Israel.   Mereka dianggap sebagai orang berdosa dan pengkhianat bangsa.  Maka maklumlah bila ada banyak orang yang berkasak-kusuk dengan nada negatif keheranan membicarakan tindakan Yesus itu, “ Ia menumpang di rumah orang berdosa” (ay.7).  Namun pelayanan Yesus yang meretas  sikap gengsi dan sok suci itu menunjukkan hasilnya.  Zakheus menjadi bertobat dan berkomitmen untuk memberikan hartanya pada orang miskin dan mengganti orang-orang yang dulu pernah di perasnya.  Tuhan Yesus berkata, “ Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”(ay.10).
Saatnya turut menyingsingkan lengan baju bekerja melayani sesama.  Dengan tidak memandang perbedaan status, golongan, agama dan lain sebagainya.  Melayani yang terhilang agar mereka mengenal Tuhan.  Serta mengalami pertobatan hidup.  Semakin berguna bagi sesama manusia.

Oleh
Iwan Firman Widiyanto, M.Th.


  

“HIKMAT MEMBAWA PERUBAHAN”

(Pengkotbah 8:1)

“... Hikmat manusia menjadikan wajahnya bercahaya dan berubahlah kekerasan wajahnya”



Pengkotbah adalah salah satu kitab suci yang sangat sulit di pahami. Di dalamnya terdapat banyak hal yang diungkapkan secara kontradiksi.  Misalnya, Di satu sisi Ia menganjurkan orang berhikmat dan banyak belajar -- dan dia pun seorang pembelajar kehidupan yang baik-- namun di sisi lain ia mengatakan semuanya itu sia-sia karena di dalam hikmat ada banyak susah hati (1:18).  Meskipun demikian Ia tidak mengatakan hikmat sama sekali tidak berguna.  Ia menulis, “...Hikmat manusia menjadikan wajahnya bercahaya dan berubahlah kekerasan wajahnya”(8:1).  Itu berarti hikmat tetap merupakan sesuatu yang bernilai.  Disebut sebagai dapat membuat wajah orang bercahaya sekaligus merubah kekerasan wajahnya.  Kita tahu bahwa wajah itu representasi dari hati.  Dengan demikian hikmat tidak hanya merubah wajah namun juga merubah hati yang memancarkan kehidupan yang lebih baik.
Inilah kesimpulan hikmat dari Pengkotbah, Pertama : Senantiasa mensyukuri apa yang sudah dikaruniakan Tuhan dengan cara menikmati dan bergembira atas segala hasil jerih lelah (2:24-26; 5:17; 9:7-8).  Kedua; Senantiasa bergembira dalam pekerjaan (3:2; 9:10).  Ketiga; Menikmati hidup bersama istri seumur hidupmu yang dikaruniakan Tuhan (9:9). Keempat; Tetap berhikmat karena hikmat itu perkasa dan mempunyai kekuatan (9:16-18). Kelima;  Selama hidup harus mengingat Tuhan, takut akan Tuhan dan dan berpegang pada perintah-perintahNya karena pada saatnya Tuhan akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan (12:1; 12:13-14).
Marilah membuat hidup kita bercahaya dan membawa perubahan didalamnya dengan mencari hikmat dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh Pdm.Iwan Firman Widiyanto, M.Th.