"KEJATUHAN DI MASA KEJAYAAN"



Nats Alkitab : 2 Samuel 11:1-27


    Daud mulai hidup nyaman dan mapan. Ia menikmati masa kejayaannya. Ia tidak perlu lagi terjun langsung dalam peperangan untuk memperluas kekuasaannya. Cukup perintah saja maka para anak buahnya yang setia yang akan langsung bertindak.  Oleh karena itu Ia mempunyai banyak waktu untuk menikmati hidup.  Tidur siang, bangun sore hari, petang jalan-jalan cuci mata.  Meskipun di tempat yang lain para anak buahnya berjuang mempertaruhkan nyawa bagi kekuasaannya.

    Justru disinilah awal kejatuhan Daud.  Ia tidak jatuh saat Ia masih lemah, saat harus berhadapan dengan tentara elit gagah perkasa yaitu Goliat. Namun Ia jatuh justru saat telah menjadi kuat.  Ia jatuh saat telah menjadi raja yang penuh dengan kuasa. Ia jatuh saat apa saja yang diinginkannya pasti dapat terlaksana. Ia jatuh saat menginginkan Betsyeba Istri Uria.
  
  Kita harus menyadari bahwa situasi kejayaan dan kenyamanan dapat menjatuhkan seseorang. Maka harus semakin berhati-hati manakala kita di ijinkan Tuhan berdiri pada posisi atau situasi bahwa "Semua yang kita inginkan pasti dapat terlaksana".  Jangan- jangan itu adalah awal dari kejatuhan kita.Oleh karena itu tetaplah takut akan Tuhan dalam segala keadaan.  Roh Kudus akan menolong kita  mengendalikan keinginan- keiginan yang bisa membawa pada kejatuhan.

Oleh Pdm.Iwan Firman Widiyanto, M.Th.

"KEBENARAN SANG KRISTUS, KARYA PELAWATAN ALLAH"

(Yoh.1:10-14)




        Kebenaran yang ironis telah diungkapkan oleh Yohanes.  Ditulis bahwa " Ia telah ada dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalnya (ay.10). Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaannya itu tidak menerimaNya(ay.11)". Ia yang dimaksud disini ialah Firman Allah yang telah menjadi manusia di dalam Yesus Kristus(ay.14). Firman itu menjadi manusia, diperanakkan bukan karena keinginan laki-laki namun karena kehendak Allah.

          Namun dinyatakan setiap orang yang mau menerima Yesus, sebagai perwujudan Firman yang telah menjadi manusia akan di beri kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Suatu gambaran posisi atau keadaan yang luar biasa.  Bisa diartikan Allah memberikan posisi yang istimewa bagi orang yang mau menerima Sang Firman yang telah menjelma menjadi manusia. Posisi yang sangat dekat dengan Allah.  Mampu mendengar kehendaknya secara langsung, masuk dalam lingkaran pertama perlindungan dan fasilitas berkat Allah, serta mewarisi janji keselamatan secara penuh dalam Kerajaan Allah.

            Lalu bagaimana menerima Sang Firman itu ? Menerima Sang Firman berarti mempersilahkan Sang Firmam, Yesus Kristus, untuk menjadi raja dalam kehidupan kita.  Selanjutnya kita tunduk dan taat melakukan pemerintahannya.  Biarkan Sang Firman membangun Kerajaan Allah di dalam kehidupan kita.  Bukankah dia itu Raja Damai? maka kedamaian yang bernilai kekal akan menyelimuti pemerintahan Sang Firman dalam kehidupan kita.

Oleh Pdm.Iwan Firman Widiyanto, M.Th.

          

"LAHIR BARU"

(Yoh.3:1-21)


        Yesus bersabda, "Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, Ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah"(ay.3). Lalu Dia memberikan penjelasan lebih,"Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, Ia tidak dapat masuk kedalam Kerajaan Allah"(ay.5).  Memang pengajaran Tuhan Yesus ini merupakan pokok- pokok pengajaran yang sulit untuk dipahami.   Sehingga orang sekaliber Nikodemus, Seorang pemimpin agama Yahudi, seorang pengajar Israel, kesulitan untuk memahami pengajaran tersebut.  Pada kesempatan itu Tuhan Yesus juga meminta Nikodemus untuk dilahirkan kembali (ay.6).

         Dilahirkan kembali adalah prasyarat utama untuk melihat dan masuk dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah sendiri merupakan sebuah situasi dimana Allah hadir dan memerintah sebagai Raja.  Dalam situasi tersebut ada kebenaran, kasih, keadilan dan damai sejahtera.  Barangsiapa menginginkan kehidupan semacam itu harus lahir kembali.

        Lahir kembali dapat diartikan sebagai sebuah hidup baru yang penuh dengan pertobatan.  Disebut lahir dari air mengacu kepada sebuah penyucian atas segala perbuatan dosa diwaktu yang lalu. Air sebagai lambang Roh Kudus yang membersihkan dan menyegarkan.  Sedangkan dilahirkan dari Roh mengacu pada komitmen hidup baru.  Kesediaan hidup dipimpin oleh Roh Kudus.  Hanya melalui pertobatan dan hidup baru melalui Roh Kudus inilah seseorang dapat mendapatkan jalan untuk mengalami Kehidupan dalam kerajaan Allah pada saat ini juga.

Oleh Pdm Iwan Firman Widiyanto, M.Th.

"Yusuf : Memberi Sepenuh Hati"

(Matius 1:18-24)




        Dalam kisah Natal seringkali hanya orang Majuslah yang diasosiasikan dengan pemberian kepada Tuhan Yesus.  Namun sebenarnya orangtua Yesus khususnya Yusuf merupakan salah satu orang yang juga memberi diri kepada Tuhan dengan sepenuh hati.  Sehingga melaluinya rencana keselamatan Allah kepada manusia melalui Tuhan Yesus dapat di wujudkan.
      
        Yusuf bersedia memberi dirinya untuk menjadi bagian dalam rencana agung Tuhan.  Ia bersedia menikahi Maria meskipun sudah dalam keadaan hamil.  Sebagai manusia biasa tindakan itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk diputuskan.  Namun pada akhirnya Ia rela melakukannya sebagai langkah ketaatan kepada kehendak Tuhan.

        Apakah Saudara rela dipakai untuk menjadi bagian dari rencana Agung Tuhan.  Jikalau bersedia jadilah seperti Yusuf memberi diri sepenuh hati kepada Tuhan.  Sikap-sikap yang diperlukan untuk itu adalah ketulusan, kerendahan hati dan ketaatan. Selamat Memberi diri pada Sang Juruselamat.Amen.

Oleh Pdm.Iwan Firman Widiyanto, M.Th.

"Kabar Baik Bagi Semua Orang"

(Lukas 1:26-38)




        Malaikat Gabriel datang menemui Maria.  Ia membawa kabar baik kepadanya bahwa Maria akan mengandung dari Roh Kudus dan selanjutnya melahirkan seorang bayi laki-laki.  Gabriel menyatakan bahwa anak tersebut akan disebut anak Allah yang maha tinggi.  Dan Tuhan akan mengaruniakan kepadaNya tahta Daud bapa leluhurnya, dan kelak akan menjadi Raja dan kerajaanNya tidak berkesudahan.

        Kabar tersebut tentu sangat mengejutkan sekaligus  juga menggembirakan bagi Maria.  Sehingga Ia merespon positif perkataan Tuhan melalui malaikat tersebut dengan berkata, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan: Jadilah padaku menurut perkataanmu itu".  Kabar tersebut seharusnya menggembirakan tidak hanya bagi Maria tetapi juga bagi seluruh Israel.  Masalahnya pada saat itu Israel sudah lama tidak memiliki raja dan negaranya di jajah oleh pemerintahan Romawi.  
Kitab Lukas ini ditulis setelah tahun 70 Masehi setelah Yerusalem dan Bait Suci dihancurkan. Nampaknya hendak memberikan penghiburan dan pengharapan kepada bangsa Israel.  Menjanjikan Raja yang akan mengatur dan memulihkan keadaan bangsa Israel dan membawa pada puncak kejayaan.

        Janji dan pengharapan itu layak didapatkan juga oleh kita semua.  Karena Yesus bukan saja raja biasa melainkan Anak Allah yang maha tinggi. Ia adalah Allah sendiri.  Yang kerajaannya tidak dibatasi oleh Israel saja namun seluruh isi dunia ini.  Dan yang pemerintahannya berlangsung selama-lamanya.  Maka terimalah Yesus menjadi Rajamu.  Dan Ia akan mengatur dan memulihkan serta membawa hidupmu yang tertawan dan terpenjara oleh keinginan dunia ini beralih pada kejayaan surgawi.Amen.


Oleh

Pdm.Iwan Firman Widiyanto, M.Th.

“INJIL YANG MENYELAMATKAN”

(Roma 1:16-17)



Korea selatan adalah negara yang luar biasa.  Secara  rohani perkembangan kekristenannya sangat pesat.  Terdapat banyak mega church  disana.  Myung Sung Presbyterian Church merupakan salah satunya. Jemaatnya hingga seratus ribu jiwa.  Mereka banyak mengirim misionaris ke seluruh dunia.  Di Indonesia saja kurang lebih ada 700 orang Korea Selatan yang melakukan misi penginjilan.  Meskipun di Korea sendiri kekristenan baru 18,3 persen dari populasi yang ada.  Empat puluh enam persen populasi terbesar merupakan orang Atheisme.  Tidak mengherankan, dengan keadaan tersebut terjadi sebuah Ironi permasalahan yang besar di tengah kemajuan bangsa Korea yang diramalkan akan menjadi negara terkaya nomer 2 di dunia karena pertumbuhan ekonominya yang sangat cepat. Negara ini mempunyai permasalahan tingkat bunuh diri yang terbesar di seluruh dunia. Penelitian tahun 2011 memperlihatkan bahwa 28,4 dari seratus ribu orang Korea Selatan melakukan bunuh diri.  Penyebabnya karena tekanan hidup yang berat dengan tuntutan yang tinggi dalam segala hal demi percepatan ekonomi.  Tentu saja mereka yang atheis cenderung mengalami gangguan depresi yang parah karena tidak  mempunyai pengharapan.


Hidup dengan Injil mampu menyelamatkan dan memberikan kekuatan.  Kalau tidak demikian Paulus  tidak akan memegang dengan kokoh keyakinan akan Injil itu (ay.16).  Keyakinannya yang kokoh itu bahkan sudah dibuktikan dalam pengalaman hidupnya yang penuh dengan tantangan dan ancaman (2 Kor.11:23-28).  Hidup dengan Injil adalah hidup dalam pertobatan dan pengampunan dosa (Lukas 24:47).  Bisa dikatakan sebagai hidup yang benar-benar hidup karena didalamnya ada damai sejahtera, sukacita dan kebahagiaan.  Sebaliknya  hidup tanpa Injil merupkan hidup yang sebenarnya binasa karena hidup  dengan absennya ketenangan, damai sejahtera dan sukacita.  Hidup penuh amarah , dendam , kebencian, ketakutan, kekawatiran dan tak berpengharapan.  Hidup semacam itu oleh karena masih menuruti keinginan daging (Gal.5:19-21).  Hidup tanpa adanya pertobatan dan pengampunan dosa.
Tentu kita akan memilih Hidup Dengan Injil yang menjanjikan keselamatan.  Baik keselamatan di dunia saat ini juga maupun keselamatan kekal secara sempurna di dalam kerajaan Sorga.  Mari hidup dengan Injil yang menyelamatkan.  Selanjutnya juga melakukan misi Tuhan dalam mengabarkan Injil Yang Menyelamatkan tersebut dalam kehidupan di dunia ini.

Oleh
Pdm.Iwan Firman Widiyanto, M.Th.


“MERETAS BATAS-BATAS PELAYANAN”

(Lukas 19:1-10)



Pada saat ini santer pemberitaan mengenai para menteri kabinet kerja yang blusukan secara total.  Mereka semua nampaknya mengikuti gaya presiden Jokowi yang mengedepankan strategi blusukan untuk mengetahui kondisi real masyarakat. Ada menteri yang bahkan naek pagar karena tidak dibukakan pintu waktu melakukan sidak di sebuah agen penampungan tenaga kerja.  Aksi mereka ini bisa di bilang meretas batas-batas pelayanan.    Sudah tidak ada lagi perasaan-perasaan gengsi, enggan, sungkan yang dapat membatasi pelayanan kepada sesama.
Tuhan Yesus sudah memberikan teladan untuk melayani siapapun tanpa melihat status sosial ataupun pandangan masyarakat.  Ia berkenan menumpang di rumah Zakheus Sang Pemungut Cukai (ay.5).  Padahal status sebagai pemungut cukai merupakan status yang di benci oleh masyarakat Israel.   Mereka dianggap sebagai orang berdosa dan pengkhianat bangsa.  Maka maklumlah bila ada banyak orang yang berkasak-kusuk dengan nada negatif keheranan membicarakan tindakan Yesus itu, “ Ia menumpang di rumah orang berdosa” (ay.7).  Namun pelayanan Yesus yang meretas  sikap gengsi dan sok suci itu menunjukkan hasilnya.  Zakheus menjadi bertobat dan berkomitmen untuk memberikan hartanya pada orang miskin dan mengganti orang-orang yang dulu pernah di perasnya.  Tuhan Yesus berkata, “ Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”(ay.10).
Saatnya turut menyingsingkan lengan baju bekerja melayani sesama.  Dengan tidak memandang perbedaan status, golongan, agama dan lain sebagainya.  Melayani yang terhilang agar mereka mengenal Tuhan.  Serta mengalami pertobatan hidup.  Semakin berguna bagi sesama manusia.

Oleh
Iwan Firman Widiyanto, M.Th.